Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:
Menjelaskan pengertian sumber informasi.
Mengidentifikasi indikator kredibilitas suatu sumber informasi.
Menjelaskan pentingnya otoritas penulis dalam menentukan kualitas informasi.
Menganalisis tujuan suatu publikasi sebelum mempercayai informasi.
Mengevaluasi relevansi dan kebaruan suatu sumber informasi.
Menunjukkan sikap kritis dan bertanggung jawab dalam menggunakan informasi dari berbagai sumber.
Pada era digital saat ini, informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Cukup mengetik beberapa kata pada mesin pencari, dalam hitungan detik kita dapat menemukan jutaan halaman web, artikel, video, maupun unggahan media sosial. Kemudahan ini memberikan banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru.
Tidak semua informasi yang tersedia di internet berasal dari sumber yang dapat dipercaya. Ada informasi yang dibuat berdasarkan penelitian ilmiah, ada yang ditulis oleh lembaga resmi, namun ada pula yang dibuat tanpa dasar yang jelas, bahkan sengaja disebarkan untuk menyesatkan pembaca.
Misalnya, ketika mencari informasi tentang manfaat suatu obat, kita mungkin menemukan artikel dari rumah sakit, kementerian kesehatan, blog pribadi, maupun unggahan media sosial. Meskipun membahas topik yang sama, kualitas informasi dari masing-masing sumber bisa sangat berbeda.
Oleh karena itu, sebelum mempercayai suatu informasi, kita tidak cukup hanya membaca isinya. Kita juga harus mengetahui siapa yang menulisnya, siapa yang menerbitkannya, apa tujuan penulisannya, serta apakah informasi tersebut masih relevan dengan kondisi saat ini.
Kemampuan mengevaluasi validitas sumber informasi merupakan salah satu keterampilan penting dalam literasi digital. Dengan keterampilan ini, kita dapat menghindari hoaks, disinformasi, maupun informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
Sumber informasi adalah asal atau tempat diperolehnya suatu informasi. Sumber informasi dapat berupa individu, organisasi, buku, jurnal, surat kabar, televisi, radio, situs web, maupun media sosial yang menyediakan informasi kepada masyarakat.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita memperoleh informasi dari berbagai sumber, misalnya:
● Buku pelajaran.
● Guru.
● Orang tua.
● Portal berita.
● Situs pemerintah.
● Jurnal ilmiah.
● Media sosial.
● Video edukasi.
● Podcast.
Namun, setiap sumber memiliki tingkat kepercayaan yang berbeda. Oleh karena itu, kita perlu menilai apakah suatu sumber layak dijadikan rujukan.
Kredibilitas adalah tingkat kepercayaan terhadap suatu sumber informasi. Semakin tinggi kredibilitas suatu sumber, semakin besar kemungkinan informasi yang disampaikan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Beberapa indikator yang dapat digunakan untuk menilai kredibilitas suatu sumber informasi antara lain sebagai berikut.
Sumber yang baik mencantumkan nama penulis beserta identitas atau keahliannya.
Contoh:
✔ Artikel ditulis oleh dosen bidang kesehatan.
✘ Artikel ditulis tanpa nama penulis.
Informasi yang diterbitkan oleh lembaga resmi umumnya lebih dapat dipercaya.
Contoh lembaga resmi:
● Kementerian Pendidikan.
● Badan Pusat Statistik (BPS).
● WHO.
● Perguruan tinggi.
● Organisasi profesi.
Informasi yang baik biasanya didukung oleh data, penelitian, atau referensi yang dapat diperiksa kembali.
Semakin jelas sumber rujukannya, semakin tinggi tingkat kepercayaannya.
Informasi yang benar dapat dibandingkan dengan sumber terpercaya lainnya.
Apabila informasi hanya muncul pada satu situs yang tidak dikenal, kita perlu berhati-hati.
Sumber yang kredibel menyampaikan informasi secara seimbang dan berdasarkan fakta, bukan sekadar opini atau emosi.
Otoritas penulis adalah tingkat keahlian, kompetensi, atau kewenangan seseorang dalam membahas suatu topik.
Tidak semua orang memiliki pengetahuan yang sama mengenai suatu bidang.
Misalnya:
● Dokter lebih berwenang menjelaskan penyakit dibandingkan seorang selebritas.
● Guru matematika lebih berwenang menjelaskan materi matematika dibandingkan seorang influencer.
● Ahli meteorologi lebih berwenang menjelaskan cuaca dibandingkan orang biasa.
Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menilai otoritas penulis:
● Latar belakang pendidikan.
● Bidang keahlian.
● Pengalaman.
● Institusi tempat bekerja.
● Publikasi atau karya ilmiah.
Semakin sesuai keahlian penulis dengan topik yang dibahas, semakin tinggi tingkat kepercayaan terhadap informasi tersebut.
Setiap informasi dibuat dengan tujuan tertentu. Oleh karena itu, kita perlu memahami alasan suatu informasi dipublikasikan.
Secara umum, tujuan publikasi dapat berupa:
Bertujuan menyampaikan fakta kepada masyarakat.
Contoh:
Portal berita dan situs pemerintah.
Bertujuan menambah pengetahuan pembaca.
Contoh:
Buku pelajaran dan video pembelajaran.
Bertujuan memberikan hiburan.
Contoh:
Konten media sosial dan video komedi.
Bertujuan menarik perhatian calon pembeli.
Contoh:
Iklan produk kesehatan.
Bertujuan membentuk cara berpikir masyarakat terhadap suatu isu tertentu.
Oleh karena itu, kita perlu berhati-hati terhadap informasi yang hanya menampilkan satu sudut pandang tanpa didukung bukti yang memadai.
Selain benar, informasi juga harus relevan dan terbaru.
Relevansi menunjukkan kesesuaian informasi dengan kebutuhan pengguna.
Contoh:
Apabila sedang mencari materi Informatika kelas X, maka sumber yang digunakan sebaiknya memang membahas Informatika kelas X, bukan materi untuk jenjang yang berbeda.
Informasi harus sesuai dengan perkembangan terbaru.
Contoh:
Data jumlah pengguna internet tahun 2015 tentu kurang tepat jika digunakan untuk menggambarkan kondisi saat ini.
Begitu pula aturan pemerintah yang sudah diperbarui tidak boleh lagi menggunakan versi lama.
Karena itu, selalu perhatikan tanggal publikasi atau tanggal pembaruan suatu informasi.
Seorang siswa mencari informasi tentang perubahan iklim.
Ia menemukan dua artikel.
● Artikel pertama berasal dari situs kementerian dan ditulis oleh seorang peneliti.
● Artikel kedua berasal dari blog pribadi tanpa identitas penulis.
Sumber pertama lebih layak dijadikan rujukan karena memiliki identitas penulis yang jelas dan diterbitkan oleh lembaga resmi.
Seseorang menerima pesan di media sosial yang mengklaim bahwa suatu makanan dapat menyembuhkan semua penyakit.
Pesan tersebut tidak mencantumkan penulis maupun referensi penelitian.
Sebelum mempercayainya, kita perlu mencari informasi yang sama pada situs rumah sakit, kementerian kesehatan, atau organisasi kesehatan resmi.
Seorang siswa menggunakan artikel tahun 2010 sebagai referensi untuk menjelaskan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Meskipun sumbernya benar, informasi tersebut sudah tidak lagi mutakhir sehingga perlu dibandingkan dengan sumber yang lebih baru.
Sumber informasi merupakan asal diperolehnya suatu informasi. Tidak semua sumber memiliki tingkat kepercayaan yang sama. Oleh karena itu, setiap informasi perlu dievaluasi berdasarkan kredibilitas sumber, otoritas penulis, tujuan publikasi, relevansi, serta kebaruannya. Dengan kemampuan tersebut, kita dapat memilih informasi yang lebih akurat dan menghindari penyebaran informasi yang salah.
● Sumber informasi adalah asal diperolehnya suatu informasi.
● Kredibilitas sumber dapat dinilai melalui identitas penulis, lembaga penerbit, referensi, objektivitas, dan kemampuan informasi untuk diverifikasi.
● Otoritas penulis menunjukkan tingkat keahlian seseorang dalam membahas suatu topik.
● Tujuan publikasi dapat berupa memberikan informasi, edukasi, hiburan, promosi, atau memengaruhi opini.
● Informasi yang baik harus relevan dengan kebutuhan dan sesuai dengan perkembangan terbaru.
● Mengevaluasi sumber informasi merupakan langkah penting dalam membangun literasi digital dan menghindari hoaks.
Banyak pemeriksa fakta profesional tidak langsung membaca isi sebuah artikel secara mendalam ketika menemukan informasi yang mencurigakan. Mereka terlebih dahulu mencari tahu siapa penulisnya, organisasi yang menerbitkannya, kapan artikel tersebut dipublikasikan, dan bagaimana reputasi situs tersebut. Cara ini dikenal sebagai bagian dari evaluasi sumber informasi, yang membantu mereka menilai apakah suatu informasi layak dipercaya bahkan sebelum memeriksa isi artikel secara rinci.